KATA
PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang, segala puji hanya bagiNya. Semoga sholawat
beserta salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, nabi besar Muhammad
SAW beserta keluarga dan para sahabatnya, dan juga kepada para pengikutnya yang
setia hingga akhir zaman.
Puji
syukur Alhamdulilah kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan segala rahmat,hidayah,inayah-Nya. Sehingga penulisan makalah ini
dapat diselesaikan dengan baik dan lancar.
Makalah dengan judul “BERLOMBA-LOMBA MENUJU KEBAIKAN” sebagai tugas mata kuliah Agama.
Dalam penulisan makalah ini kami
bayak menerima bantuan bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. Pada
kesempatan ini ,kami tidak lupa mngucapkan terima kasih yang sedalam-
dalamnnya.
Penulis berharap makalah ini dapat
memberikan manfaat bagi mahasiswa yang membacanya. Penulis menyadari bahwa
dalam penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna, karena masih banyak
kekurangan dan kesalahan. Maka penulis
menerima kritik dan saran yang bersifat membangun untuk meyempurnakan makalah
ini.
Dengan makalah ini, penulis
mengharapkan semoga makalah ini dapat bermanfaat dan berguna bagi penulis serta
pembaca pada umumnya.
Penulis,
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .........................................................................................................
KATA PENGANTAR .......................................................................................................
DAFTAR ISI .....................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................
a. Latar belakang ........................................................................................................
b. Rumusan masalah ...................................................................................................
c. Tujuan penulisan .....................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN ..................................................................................................
a. Pengertian
Berkompetisi..........................................................................................
b. Pengertian
Kebaikan................................................................................................
c. Berkompetisi
dalam Kebaikan Sesuai Perintah Allah SWT dalam Surat
Al-Baqarah:148 dan Hadist Nabi...........................................................................
BAB
III PENUTUP............................................................................................................
a. Kesimpulan
.............................................................................................................
b. Saran
.......................................................................................................................
BAB
IV DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Allah Ta’ala telah memberikan berbagai nikmat-Nya
kepada kita semua yang tentunya harus kita syukuri dengan cara: yang pertama,
kita meyakini dalam hati bahwa nikmat-nikmat tersebut datangnya dari Allah
semata, yang merupakan karunia-Nya yang diberikan kepada kita; yang kedua,
mengucapkan rasa syukur kepada-Nya melalui lisan-lisan kita dengan cara
memuji-Nya; dan yang ketiga, mempergunakannya sesuai dengan apa yang Allah
kehendaki.
Di antara nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada
kita adalah harta dan sehatnya anggota badan seperti lisan, tangan, kaki dan
lainnya. Semua nikmat itu harus kita gunakan untuk ketaatan kepada Allah dengan
cara menginfakkan harta yang kita miliki di jalan kebenaran, membiasakan lisan
kita untuk senantiasa berdzikir kepada-Nya dengan dzikir-dzikir yang telah
diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya yang shahih,
mengucapkan ucapan yang baik, beramar ma’ruf nahi munkar dan sebagainya.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka kami merumuskan
beberapa hal yang akan dibahas pada makalah ini, yaitu :
1.
Apa pengertian dari berkompetisi?
2.
Apa pengertian kebaikan?
3.
Bagaimana penjelasan perintah Allah SWT dalam Al-Quran Surat
Al-Baqarah:148 serta Hadist Nabi untuk berkompetisi dalam berbuat kebaikan.
C.
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.
Agar kita mengetahui dan memahami perintah Allah SWT maupun hadist
Nabi yang memerintahkan kita untuk berkompetisi dalam berbuat kebaikan.
2.
Untuk mengingatkan kita agar senantiasa berbuat kebaikan, kapanpun
dan dimanapun.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Berkompetisi
Kompetisi
adalah kata kerja intransitive yang berarti tidak membutuhkan objek sebagai
korban kecuali ditambah dengan pasangan kata lain seperti against (melawan),
over (atas), atau with (dengan). Tambahan itu pilihan hidup dan bisa
disesuaikan dengan kepentingan keadaan menurut versi tertentu.
Menurut
Deaux, Dane dan Wrightsman (1993), kompetisi adalah aktivitas mencapai tujuan
dengan cara mengalahkan orang lain atau kelompok. Individu atau kelompok
memilih untuk bekerja sama atau berkompetisi tergantung dari struktur reward
dalam suatu situasi.
Menurut
Chaplin (1999), kompetisi adalah saling mengatasi dan berjuang antara dua
individu, atau antara beberapa kelompok untuk memperebutkan objek yang sama.
B.
Pengertian Kebaikan
Secara umum kebaikan adalah sesuatu yang diinginkan,
yang diusahakan dan menjadi tujuan manusia. Tingkah laku manusia adalah baik
dan benar, jika tingkah
laku tersebut menuju kesempuranan manusia. Kebaikan disebut nilai(value), apabila kebaikan itu bagi seseorang
menjadi kebaikan yang konkrit.Manusia menentukan tingkah lakunya untuk tujuan
dan memilih jalanyang ditempuh. Pertama kali yang timbul dalam jiwa
adalah tujuan itu, dalampelaksanaanya yang pertama diperlukan adalah
jalan-jalan itu. Jalan yangditempuh
mendapatkan nilai dari tujuan akhir.Manusia harus mempunyai tujuan akhir
untuk arah hidupnya.
Tujuan
harus ada, supaya manusia dapat menentukan
tindakan pertama. Jika tidak,manusia akan hidup secara serampangan. Tetapi bisa
juga orang mengatakanhidup secara serampangan menjadi tujuan hidupnya.Akan
tetapi dengan begitu manusia tidak akan sampai kepada kesempurnaan kebaikan
selaras dengan derajat manusia.Untuk setiap manusia, hanya terdapat satu tujuan
akhir. Seluruh manusiamempunyai sifat serupa dalam usaha hidupnya, yaitu
menuntut kesempurnaan.Tujuan akhir selamanya merupakan kebaikan tertinggi, baik
manusia itu mencarinya dengan kesenangan atau tidak.
Tingkah
laku atau perbuatan menjadi baik dalam arti
akhlak, apabila membimbing manusia ke arah tujuan akhir, yaitu dengan melakukan
perbuatan yang membuatnya baik sebagai manusia
Berdasarkan norma susila, kebaikan atau keburukan
perbuatan manusiadapat dipandang melalui beberapa cara, yaitu :
a) Objektif, keadaan perseorangan tidak dipandang.
b) Subjektif, keadaan perseorangan diperhitungkan.
c) Batiniah, berasal dari dalam perbuatan sendiri (kebatinan, intrinsic)
d)
Lahiriah, berasal dari perintah atau larangan Hukum Positif (ekstrinsik)Perbuatan
yang sendirinya jahat tidak dapat menjadi baik atau netralkarena alasan
atau keadaan. Biarpun mungkin taraf keburukannya dapat berubahsedikit sedikit, orang tidak boleh berbuat jahat untuk
mencapai kebaikan.Perbuatan yang baik, tumbuh dalam kebaikannya, karena
kebaikan alasandan keadaannya. Suatu alasan atau keadaan yang jahat
sekali, telah cukup untuk menjahatkan perbuatan. Kalau kejahatan itu
sedikit, maka kebaikan perbuatanhanya akan
dikurangi.Perbuatan netral memproleh kesusilaannya, karena alasan dan
keadaannya.Jika ada beberapa keadaan, baik dan jahat, sedang perbuatan itu
sendiri ada baik atau netral dipergunakan.
C. Berkompetisi dalam Kebaikan Sesuai Perintah Allah SWT dalam
Surat Al-Baqarah:148 dan Hadist Nabi
Berlomba
dalam menggapai dunia bukan hal yang asing lagi di tengah kita untuk masuk
perguruan tinggi terkemuka kita dapat menyaksikan sendiri bagaimana setiap
orang ingin dapat yang terdepan. Cita-citanya bagaimana bisa mendapat
penghidupan yang bahagia kelak,namun amat jarang kita perhatikan orang-orang
berlomba dalam hal akhirat.
Sedikit
orang yang mendapat rahmat Allah yang mungkin sadar akan hal ini. Cobalah saja
perhatikan bagaimana orang-orang lebih senang menghafal berbagai tembangan
‘nyanyian’ daripada menghafalkan Al Qur’an Al Karim. Bahkan lebih senang
menjadi nomor satu dalam hal tembangan, lagu apa saja yang dihafal, daripada
menjadi nomor satu dalam menghafalkan Kalamullah.
Di
dalam shalat jama’ah pun, kita dapat saksikan sendiri bagaimana ada yang sampai
menyerahkan shaf terdepan pada orang
lain. “Silahkan, Bapak saja yang di depan”, ujar seseorang. Akhirat diberikan
pada orang lain. Padahal shaf terdepan adalah shaf utama dibanding yang di
belakangnya bagi kaum pria.
Demikianlah
karena tidak paham dalam hal menjadi nomor satu dalam kebaikan akhirat sehingga
rela jadi yang terbelakang.
Ayat
yang patut direnungkan bersama pada kesempatan kali ini adalah firman
Allah Ta’ala dalam Surat
Al-Baqarah 148 “Yang Artinya”
“Dan bagi tiap-tiap
umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka
berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti
Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah
Maha Kuasa atas segala sesuatu.( Q.S Al- Baqarah : 148 )”.[1][1]
Isi kandungan ayat diatas adalah :
Setiap umat mempunyai kiblat, umat
Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menghadap ke ka’bah, Bani Israil dan orang-orang
Yahudi menghadap ke Baitul Maqdis, dan Allah telah memerintahkan supaya kaum
muslimin menghadap ka’bah dalam shalat. Oleh karena itu, hendaknya kaum
muslimin bersatu, bekerja dengan giat, beramal, bertobat dan berlomba-lomba
dalam berbuat kebajikan dan tidak menjadi fitnah atau cemooh dari orang-orang yang
ingkar sebagai penghambat..
Allah akan menghimpun seluruh
manusia untuk dihitung dan diberi balasan atas segala amal perbuatannya. Allah
maha kuasa atas segala sesuatu dan tidak ada yang dapat melemahkannya untuk
mengumpulkan seluruh manusia pada hari pembalasan. Kemuliaan manusia bisa kita
pahami dari iman dan amal saleh atau kebaikannya dalam bersikap dan bertingkah
laku di mana pun dia berada dan dalam keadaan bagaimanapun situasi dan
kondisinya. Itu sebabnya semakin banyak perbuatan baik yg dilakukannya maka
akan semakin mulia harkat dan martabatnya di hadapan Allah SWT.
Memahami ilmu kebaikan bagi seorang
muslim tiap amal yang dilakukannya tentu harus didasari pada ilmu semakin
banyak ilmu yg dimiliki dipahami dan dikuasai insya Allah akan makin banyak
amal yang bisa dilakukannya sedangkan makin sedikit pemahaman atau ilmu
seseorang akan semakin sedikit juga amal yg bisa dilakukannya apalagi belum
tentu orang yg mempunyai ilmu secara otomatis bisa mengamalkannya. Ini berarti
seseorang akan semakin terangsang untuk melakukan kebaikan manakala dia
memahami ilmu tentang kebaikan itu.
Paling tidak ada dua kriteria
tentang kebaikan yang diterima oleh Allah SWT. Pertama ikhlas dalam beramal
yakni,Pertama ,melakukan suatu amal
dengan niat semata-mata ikhlas krna Allah SWT atau tidak riya dalam arti
mengharap pujian dari selain Allah SWT. Karena itu dalam hadis yg terkenal
Rasulullah saw bersabda yang artinya “Sesungguhnya amal itu sangat tergantung pada
niatnya”.
Kedua melakukan kebaikan itu secara benar
hal ini krna meskipun niat seseorang sudah baik bila dalam melakukan amal
dengan cara yg tidak baik maka hal itu tetap tidak bisa diterima oleh Allah SWT
karen ini termasuk bagian dari mencari selain Islam sebagai agama hidupnya yang
jelas-jelas akan ditolak Allah SWT sebagaimana yg sudah disebutkan pada QS
2:148 di atas.
Akhirnya menjadi jelas bagi kita
bahwa hidup ini harus kita jalani untuk mengabdi kepada Allah SWT yang terwujud
salah satunya dalam bentuk melakukan kebaikan dan masing-masing orang harus berusaha
melakukan kebaikan sebanyak mungkin sebagai bentuk kongkret dari perwujudan
kehidupan yg baik di dunia dan ini pula yang akan menjadi bekal bagi manusia
dalam menjalani kehidupannya di akhirat kelak.
Selain itu, terdapat juga hadist
yang bunyinya sebagai berikut :
فالأَوَّلُُ : عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
رَضِيَ الله عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ الله عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ :
"باَدِرُوْا بِالأَعْمَالِ الصَّالِحَاتِ فَسَتَكُوْنُ فِتَنٌ كَقِطَعِ
اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يَصْبَحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيَمْسِي كَافِرًا،
وَيَمْسِي مُؤْمِنًا وَيَصْبَحُ كَافِرًا، يَيِبْيعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ
الدُّنْيَا". رَوَاهُ مُسْلِم.
“Bersegeralah kalian untuk melakukan
amal shaleh, karena akan terjadi bencana yang menyerupai malam yan gelap
gulita, yaitu seseorang di waktu pagi dia beriman tetapi pada waktu sore dia
kafir, atau pada waktu sore ia beriman tetapi pada waktu paginya ia kafir, dia
rela menukar agamanya dengan sedikit keuntungan dunia.”[2][2]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari
penjabaran diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa manusia tak lepas dari
sebuah dosa. Dimanapun kita berada pasti kita sering melakukan dosa setiap
harinya ,entah kita sadari atau tidak.Apabila kita ingin berbuat baik kepada
orang lain.Terkadang kita salah mengerti dengan keadaan orang tersebut sehingga
terjadi salah paham diantara sesama.
Dimanapun
kaki ini menginjak dan dimanapun nafas ini masih menghembus, jalankanlah
perintah berlomba-lombalah dalam kebaikan sesuai dengan maksud yang ada.
Berikanlah yang terbaik untuk sesama dan pahami bagaimana keadaannya terlebih
dahulu agar kita terhindar dari rasa kesalahpahaman antar sesama serta tidak
ada yang dirugikan atas semua tindakan baik kita.
B.
Saran
Berbuat kebaikan jelas diperintahkan oleh Allah SWT. Perintah
untuk berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan, dapat kita temukan dalam Al-Quran
maupun Al-Hadist.
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
Liston
Haposan Subrian. 2010. Pengertian Kebaikan Secara Etika. (online). Diakses pada tanggal 25 Februari
1014 .pada pukul 09.27 WIB.
Arif
Sobaruddin. 2012. Pengertian kompetisi. (online). Diakses Pada tanggal 25
Februari 2014 pada pukul 09.27 WIB.
Muhammad
Nasruddin Hasan. 2010. Berlomba-Lomba dalam Kebaikan. (online). Diakses pada
tanggal 25 Februari 2014 pada pukul 09.27 WIB.
Muhammad
Haryono. 2011. Meneguhkan Iman (2). (online). Diakses pada tanggal 25 Februari
2014 pukul 10: WIB
Yanuar Firdaus.
Al-Baqarah : 148. Al Quran Online. (Online). Diakses pada tanggal 25 Februari
2014 pukul 10:00WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar